Dekatkanlah kemari telinggamu biar
kukisahkah satu hikayat atau riwayat –apalah beda—tentang cincin pinangan,
perempuan yang menunggu dan lelaki yang tinggal di dalam perahu...
Taman itu senyap. Sehabis hujan.
Suasana basah dan tidak menentu. Pukul lima sore. Sebenernya dia hanya lewat
dan sedang dalam perjalanan menuju ke penginapan di mana sudah hampir sepekan
ini ia tinggal. Sesuatu yang merawankan hati dan pikiran, yang pada detik itu
terasa melarat-larat, menahannya untuk berhenti. Dan untuk beberapa saat
membuatnya terpaku dan hanya berdiri mengamati jejak gerimis, yang seolah kekal
memberi pesan tentang bahaya menunggu.
Sebentar lagi gelap dan dia tahu tetap
akan dilewatkannya jamuan makan malam seorang diri. Masih ada waktu, pikirnya.
Dan ia berbelok menuju jalan batu yang mengarah ke sebuah kolam kecil. Tak
seorang pun berada di sana. Diambilnya tempat duduk pada sebuah bangku. Sampai
disini ia belum tahu apa yang benar-benar ingin dipikirkan dan ingin di
lakukannya. Selain yang ia tahu suasana memang agak basah dan benar-benar tidak
menentu.
“Disini aku
ingin menangis,” bisiknya.
Jika sudah
seperti itu dia akan teringat pada seseorang. Seorang lelaki yang tinggal dalam
sebuah perahu. Perahu itu diam-diam mengabur, mengendap-endap, dengan laju yang
teramat pelan, mendekat dan menjauh kearahnya.
“Kapan
kepastian yang berwajah traktat, doa dan nyanyian itu tiba dengan membawa
dirinya padaku?”
***
Di kamar
penginapan yang berbau sedap malam, di atas ranjang, sering terjadi, dirinya
berbaring dengan tanpa memejamkan mata. Bayang-bayang yang ditimbulkan oleh
cahaya yang menerobos masuk lewat kisi-kisi atau celah-celah jendela, dengan
cara yang unik dan tak terduga, menciptakan gelombang dan arus. Dan perahu lelakinya
melayang-layang, hilir dan mudik. Dia hanya menunggu, dengan perasaan cemas dan
berdebar-debar, arus dan gelombang yang datang bersama cahaya, akankah
menghempaskan perahu itu atau justru malah mengantarkan lelakinya berlabuh?
Dia
terdiam. Memikirkan lelaki yang di cintainya dan tinggal dalam perahu itu.
“Kapan kau
datang, Sayang, aku menunggumu,” bisiknya.
Sebelum dia
naik ke atas peraduan dengan gerak yang metodis dia akan mengenakan gaun
terbaik dan merias lama dihadapan cermin. Karena sewaktu-waktu lelaki itu akan
berlabuh dan alangkah akan berbunga hatinya. Dan boleh jadi lelaki itu akan
mencium bibir miliknya yang basah-rekah. Sebab sudah teramat rindu dia
mengharapkan itu.
Dan, jika
benar mereka akan bercinta nanti dia ingin memastikan dirinya akan dikenang
lelaki itu dengan wajah anggun dan paras tercantik. Dengan cara seperti itulah
lelaki dalam perahu itu akan dapat diharapkan selalu kembali menemuinya.
“Aku ingin
memelukmu, meletakan kepala ini pada dadamu, dan menangis,” katanya. “Kita akan
akan berjalan dengan terus beriringan. Menuju pasti keranjang ini.”
Dapat
dirasakannya lelaki itu memasangkan sebentuk cincin di jari manisnya. Sepasang
merpati hinggap dihadapan mereka dan terbang kembali menuju ke angkasa. Di
rabanya cincin yang masih melingkar di sana. Dia mencoba merasakan kehadiran
benda mungil itu untuk menentramkan atau justru kelak merawankan hati dan
pikirannya sendiri.
Fajar yang
merambat di pelataran mudah saja menghapus seluruh mimpi yang dijagainya
sepanjang malam. Bayang-bayang pada dinding itu pun tumpas sudah. Dengan
separuh igauan dia berkata lirih, “saatnya untuk tidur tanpa mimpi.” Lalu, dia
pejamkan mata melepas semuanya bersama cahaya terang yang datang, jatuh
tertidur, dan benar-benar tanpa mimpi.
***
Pada bulan Januari, dia masih
menginggatnya, pertemuan dengan lelaki itu terjadi. Meskipun bukan lelaki yang
benar-benar diidamkannya ketika dia datang membawa setangkai mawar dan sekotak
coklat dia menerimanya begitu saja. Kemudian angin dan cuaca yang menyaru dalam
bentuk segulung badai dan seekor lembu menindas dan mengamuk dalam dirinya.
Lelaki itu menjadi hadir menyatu dengan angin, cahaya, bayang-bayang dan udara.
Dan, bukan tak pernah tak timbul
keinginan bepergian berdua bersamanya. Pada malam-malam tertentu dia terus saja
terjaga, terserang demam, yang tak berkesudahan.
Dia merasakan hatinya yang lenggang
sekaligus pedih. Seperti sedang dirasakannya bepergian ke tempat antah
berantah, yang jauh, yang justru tanpa tujuan. Perjalanan yang tak untuk memastikan
apa-apa.
Hari-hari lewat seperti tak memberi nama pada
peristiwa. Sebab semenjak itu semua terarah pada lelaki itu dan kepada dirinya,
dia merindukan sebuah traktat, doa dan nyanyian yang dapat mengantarkan dirinya
pada lelaki dalam perahu itu. Atau yang akan mengantarkan lelaki itu kepada
dirinya. Merindukan dengan sangat.
Sebenarnya dia gadis yang baik.
Perilakunya yang sederhana menegaskan itu. Bila berkata-kata bahasa yang
digunakannya runut. Jelas-jelas memperlihatkan kerendahan hati dan menampakan
jiwa yang di dalam begitu padu dengan sang empunya suara.
Dalam hidup yang sederhana itu adalah
tak masuk akal kalau dia pernah memiliki rahasia yang mengerikan. Itu hal yang
tak pernah terpikirkan oleh siapapun. Sebab apabila berbicara dengan dirinya
selalu serasa menyenangkan.
Dari suaranya yang lembut, sesuatu
yang muskil, bila dia berbicara yang tak berguna. Kata-kata yang sederhana itu
dalam arti tertentu menjauhkan dari adanya tafsir ganda dan dengan begitu jauh
pula dari segala prasangka. Mungkin dia memang mampu memberi tafsir tunggal
yang pada dirinya tahu bahwa segala sesuatu bukannya tak terhingga tetapi
justru sangat terbatas.
Dia percaya bahwa Tuhan itu adil.
Justru karenanya kerawanan hati yang kini merambati jaga dan tidurnya dia pandang
sebagai bagian keagunggan Sang Kudus itu. Rajin sekali dia berdoa. Doa yang
rinci dan yang mungkin mampu menembus jauh kebintang-bintang. Sekaligus yang
dengan mudah memasrahkan segal ikwal kehidupan yang mengelora menjadi tenang
dan penuh pengertian.
Saat mengenal lelaki itulah, pada
awalnya dia bersikeras seluruh pengalaman manusia, setidak-tidaknya
pengalamannya sendiri, cuma sebentuk bayangan, yang terkadang nyata, yang
berderet sederhana, dari hari berjalan ke hari.
Pikirannya tanpa pertimbangan bekerja
setiap waktu dengan gentar dan akhirnya lamat-lamat menuju kesia-siaan yang
sempurna. Seperti gelombang dan arus yang membuat hilir mudik perahu lelaki itu
dan tak pernah membuatnya berlabuh. Juga seperti bayang-bayang cahaya yang
menerobos masuk lewat kisi-kisi atau celah-celah jendela.
Perahu lelakinya yang melayang-layang
seperti perahu hantu. Dia selalu menyangka bila gelombang membawa dengan deras
perahu itu mencapai tepi ranjang miliknya maka lelaki itu disangkanya akan
turun. Diam-diam dia menutup mata dan suatu godaan yang aneh dan akhirnya
menyedihkan membuatnya berpura-pura malu-malu dan akhirnya pura-pura tabah.
Keyakinannya terhadap doa serupa
keyakinan tentang cahaya fajar yang merambat dipelataran ketika dini hari tiba.
Sesuatu yang pasti tiba sebagaimana sesuatu itu dijanjikan. Ya, bahwa Tuhan
yang maha rahim penguasa gelombang dan arus, traktat dan nyanyian, Sang Kudus
itu, akan mengantarkan lelakinya datang. Sebab kini telah melingkar suatu yang
manis di satu antara lima jemarinya yang lentik, yang hanya terkadang saja
menari curiga dan sanksi.
Setelah rindu itu datang semua serasa
pelik dan menyiksa. Namun memanglah hal itu diluar jangkauan pikirannya yang
sederhana dan terlampau sulit untuk dapat dimengerti.
Kemampuannya untuk bertahan dari
kecemasan sendiri terkadang memang tak tergantikan atau tak menjadi lebih kukuh
oleh adanya benda-benda. Tak terkecuali setangkai mawar dan sekotak coklat.
Bahkan juga kehadiran si mungil di jari manisnya. Meski itu benda bertuah yang
mewakili satu turunan janji. Tanda yang tak sanksi bahwa dia telah menjadi
pinangan lelaki itu.
Rindu membuat dirinya mengigil dingin
disiang yang cerah. Atau di malam-malam yang hangat yang langitnya di penuhi
bintang-bintang.
Soal air mata merupakan soal yang lain
lagi. Dulu di dalam doa atau saat bernyanyi, karena suka cita, wajar sekali
kalau dia menangis. Doa dan nyanyian atau sebuah traktatlah penyebabnya. Dan,
kini dia menangis karena hal-hal yang tak kunjung dimengerti. Juga karena
kenapa lelaki yang ditemui di bulan Januari itu tak juga datang. Sudah sepekan
dia menunggu di penginapan. Kenapa mesti dirinya yang harus menanggungkan
keterlambatan yang tak terampuni macam itu. Hanya karena dia perempuan? Dan,
cincin pinangan itu serasa jadi tak berguna.
***
Seseorang di kejauhan menyalakan
lampu. Pukul lima sore telah lama lewat. Api yang bara didalam bola lampu itu
berpendaran di dasar kolam. Mengusir hening dan ilusi-ilusi dari bayangan
mendung dan petang. Seekor katak berwarna hijau memandanginya dengan heran.
Berkedip-kedip sedih. Seperti sahabat baik yang hadir dan peduli.
Dia belum merasa jemu di sana maka
dalam kesendiriannya ditemani katak hijau baik hati itu dia memutuskan untuk
tinggal beberapa lama lagi.
Jalan batu itu basah oleh gerimis yang
lewat. Dia tak hendak menyangkal atau membuktikan pikirannya yang keliru
menunggu. Di atas rumput hijau dilihatnya sampah-sampah kecil yang ditinggalkan
oleh penziarah taman yang sudah pulang.
Sebenarnya kalau dia pergi belum
terlambat untuk menikmati jamuan makan malam yang di sediakan penginapan. Makan
sambil mengamati pohon blimbing yang meluruhkan buah-buah muda yang busuk. Tapi
apakah artinya tanpa lelaki itu? Suatu momen jadi memudar dan sirna arti karena
sugesti yang ganjil. Dia, lelaki itu, tak salah lagi, kini, baginya serasa
hanya bermulut manis saja.
Ditengah-tengah kerawanan atau justru
keputusasaanya sendiri yang beroleh pelipur yang mendadak dari sudut-sudut masa
lalu yang jauh, matanya yang kelam menatap sejenak sepasang mata katak yang
sedang memandinginya. Timbul satu pergertian yang aneh yang membentuk satu
senyum kecil di sudut bibirnya.
“Aku bukan seekor katak yang hanya
tahu semesta raya kolam kecil ini. Sehingga harus hidup dalam satu kutukan
mabuk menunggu,” katanya.
Dia melihat batu-batu kecil yang
tengelam dan gelembung-gelembung air yang menempel di pingir-pingir kolam. Dia
melihat kebahagiaan katak itu karena keterpenjaraannya yang dunggu dan
menemukan kesedihannya sendiri telah melewati jalan yang sama. Menggulangnya
dari hari ke hari di semesta kecil yang menyaru labirin yang dalam, serupa doa,
serupa traktat dan nyanyian, yang menyerap sari-sari cahaya hidup miliknya.
Kadang keronkongannya serasa kosong dang mulutnya haus.
Mungkin saja kini memang tak ada
perlunya lagi berbicara tentang soal rindu. Mungkin juga karena dia telah
memiliki apa yang semestinya dipunyai seorang perempuan: tanda pengikat atau
turunan janji serupa cincin itu.
“Jelas kolam kecil ini tak memadai
untukku,” katanya.
Sesuatu yang tak ingin terpikirkan
jadi terpikirkan. Barangkali karena kini gelombang dan arus yang membuat hilir
mudik perahu lelaki itu berasal dari cahaya yang lain. Barangkali berasal dari
cahaya yang menerobos kisi-kisi dan celah-celah mimpi yang berbeda. Dan, yang
sebenarnya dia tak sunguh-sunguh ingin terus menanti. Seperti sekarang, di
taman ini, dia tak sedang menunggu siapa pun juga.
Taman itu bertambah senyap. Hanya
suara seranga dibalik semak dan perdu. Mengetar dan merambat bersama cahaya
kuning lampu-lampu dikejauhan. Perlahan dia bangkit dan melepas cincin itu
untuk pertama kali setelah lelaki itu memasangkannya. Saat itu dia melihat
sepasang merpati hinggap dan terbang. Dia ingin katak hijau menelan benda
bertuah itu. Merahasiakan di dasar lambungnya yang barangkali bisa sebagai tanda
persahabatan mereka.
Perempuan itu masih berdiri terpaku,
sebelum akhirnya melangkah pergi melalui jalan batu, dan hilang di dalam malam,
di antara pijar-pijar kuning lampu di kejauhan.
Tak ada yang tahu kemana dia pergi.
Hanya saja katak hijau itu masih berkedip-kedip lama setelah dia tak ada di
sana. Aku juga tak tahu apakah cincin bertuah pengikat turunan janji itu
benar-benar telah tersimpan di dasar lambungnya atau tidak. Dan apakah
perempuan yang sebaik dia harus lebih lama lagi menunggu... Betapa tak sanggup
aku mengulang dan meneruskan hikayat ini.
Tetapi kelak jika lelaki yang tinggal
dalam perahu itu bertemu katak hijau tak ragu lagi keduannya memang serupa. Ini
memang perkara ingatan dan sayang sekali hal macam itu tak pernah diketahui dan
lebih-lebih terpikirkan dibenak banyak lelaki. Tak terkecuali aku.
Dan, ada baiknya kalau kamu ingin
meminang kekasihmu aku sarankan temui dulu perempuan itu. Kamu akan lihat
betapa terang dan nyata bekas ciincin dan kekecewaaan yang ditanggungkan.
Bertanyalah padanya sebelum kamu juga memutuskan kembali tinggal dalam
pelayaran perahumu. Atau koreklah lambung katak itu, temukan cincin bertuahnya,
baru kamu bisa memasangkannya di jari manis kekasihmu. Melihat sepasang merpati
hinggap dan terbang.
Agar lebih berhati-hati, perihal
hikayat ini, kuharap kamu tak percaya padaku, sebab memanglah kekasihmu
menunggu cincin semacam itu!