Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Bebaskan Aku dari Mantramu!


LinkJul 13, '08 7:19 AM
for everyone
Link: http://ekakurniawan.com

kadang diantara kesibukanku membelai istri, memelihara ayam dan menulis saya mampir ke blog ini. kadang menarik, di kesempatan lain menarik-narik untuk dikunjungi karena lumayan sering di up date.

Photo AlbumResepsi KamiMay 19, '08 11:20 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Tanggal 11 Mei kemarin kami mengikat janji untuk jadi satu daging. hidup dalam pernikahan suci untuk membangun rumah bertangga. kira-kira maknanya persis sama dengan sajak Sutarji "tertusuk padamu berdarah padaku". kira-kira begitu. terimakasih pada yang telah hadir. yang belum hadir kami pasang foto ini.

LinkJan 8, '08 5:16 AM
for everyone

Photo AlbumTaman Mar 21, '07 10:31 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kubuka jendela taman berjalan

(Sutardji Calzoum Bachri, dalam Sajak ‘Siapa’)

Senja itu saya terbangun oleh suara yang datang jauh diluar diri saya. Bergema dari keheningan waktu yang telah lama berlalu. Mungkin itu adalah suara kidung ayahku. Mungkin itu gema puja yang dilantunkan ibundaku ketika ia masih seorang gadis. Ketika saya terbangun—saya tak sungguh-sungguh mengenali kelamin dalam suara itu. Hanya sesaat terlintas dalam pikiranku bayang-bayang batu nisan. Seorang gembala kecil yang melintas disamping Pesarean. Hujan yang sering membututi perjalanan seseorang disaat pulang.

Ditempat ini saya sedang dalam tetirah. Tetirah lama tepatnya. Dalam tempat tetirah lamaku ini jika sendainya engkau berkehendak untuk mampir, ada baiknya aku bagi sedikit coretan jalan menuju padanya.



Kau harus melintasi sebuah Langar tua yang dihalamannya tumbuh sebatang Ketapang. Harus melintasi sebuah rumah taman kanak-kanak yang kini sudah sunyi, dan masih menyimpan gambar matahari kembar yang barangkali dulu kamu lukis diatas kepala ayahmu.

Masih disitu terdapat gerbang , dimana saya hanya sering mendatanginya lewat perjalanan mimpi. Membuka gerbang itu sambil memgumamkan selarik mantra rahasia yang dicuri ayah dari kepunyaan ibuku—kelak saya harus melakukan hal yang sama pada seorang gadis. Dan mengajarkan mencuri mantra ini pada anak lelakiku. Hanya anak lelaki. Sebab bila dia perempuan ibunyalah yang harus mengajarkan cara menyimpan dalam kuluman bibirnya. Lain kali saya akan ceritakan banyak, perihal hikayat ini padamu. Kau tak perlu mengingat semua detail ini. Karena coretan jalan ini mudah saja. Cukup dekat disamping mimpi perjalanan kepalamu selama ini.

Gerbang itu menuju kearah sebuah taman yang menyimpan bangku bermain dan sebuah panggung. Dulu disanalah saya belajar menikmati masa istirahat setelah terlepas dari sebuah masa penuh jerat, kepura-puraan tragedi yang dihantarkan dalam sebuah cerita drama. Tentu ketika saya memainkan ini saya masih kanak-kanak.



Mula-mula orang lain yang menulis naskah yang saya mainkan, ini mengajarkan saya hidup dengan sederhana dalam setiap peristiwa yang ada. Dimalam hari saya hanya perlu terbaring tidur. Disiang hari disamping pohon ketapang tua saya hanya perlu berdiri begitu saja.

Dan sebuah masa berlalu dan saya putuskan kembali kemasa itu untuk tetirah lama.

Inilah yang saya cari: batas antara mimpi dan bayang-bayang dalam suara itu. Saya seperti menemukannya kembali justru ketika diam-diam kuputuskan untuk tetirah.

Entah dimana saya kembali. Vero bilang tempat terjauh kita pergi itu yang ia sebut rumah. Dan itu berarti pula sebuah perjalanan pulang dan kembali. Tapi entahlah. Saya tak tahu. Karena ketika ia bilang padaku suaranya pelan dan seperti yang sudah-sudah saya tergetar oleh dingin yang berwarna hijau. Semacam kesunyian padang yang mendalam. Saya tak sungguh-sungguh mengenalnya. Dia mengidap semacam penyakit: menjadi rapuh ketika senja tiba dan teror dingin kaca yang tinggi. Seperti ada gerimis yang basah diudara cabar dalam suaranya itu.

Saya tertidur disalah satu bangku setelah cukup lama memandangi seisi taman ini kembali. Tubuh saya terasa dingin. Saya ingin pulang. Sayang ingin kembali ke rumah. Saya ingin menata baik-baik tahun-tahun mendatang. Dan saya tertidur ketika sudah lelah menginginkan itu semua. Ketika terjaga saya ingin kamu datang agar kita bisa bicara-bicara.



Ini celaka karena saya memutuskan tetirah pada tempat yang jelas-jelas salah. Kau yang tahu jawabannya: karena ketika kubuka jendela taman berjalan ini aku menyadari bait-bait sempurna itu. Artinya manakutahu manakutahu artinya. Semua ini.

Blog EntryDec 6, '06 7:29 AM
for everyone
"Bunda, jangan tinggalkan aku sendiri!"

itu sajak orang lain.

Blog EntryNov 5, '06 8:22 AM
for everyone


Obituari

Aku berbincang tentang mati

warna-warna melembut, berberai

dan terhapus

menakjubkan!

Tubuh ayahku membayang

mengambang di pinggir pikiran

terbujur menuju untuk tidur sentosa

Berdoa dan bersujud

wajahku merajuk dan pucat

riak tak berhingga di kegelapan!

Pada alas tidurnya

air mengenangi badan

mengelombang!

Terus dia dibawa pergi

Jombang, 8 Maret 2001


Obituari (2)

Upacara ini terlalu senyap

rakit bambu itu diturunkan

Nuh terbenam ke tanah keramat

Aku mencium jejak petualangan

secercah sinar yang mulai dipadamkan

Ingatan seperti kantuk yang berjalan

lambat dan santai

Berkeliling dusun dan menginap

di rumah sepi tak berpenjaga

kemudian lekas-lekas pulang

berdandan sekedar berkencan dengan waktu

Hati-hati, jangan terburu-buru

Sekonyong dia berdiri di suatu simpang

semua kukembalikan kepada traktat dan doa

Dentang jam dan alunan musik

rahasia menuju sisa grafitasimu yang lepas

Cukup buat apa dibuktikan

waktu tak pernah keliru menjelmakan semesta

upacara ini terlalu senyap

pencarian telah usai

dari debu kembali debu

2001


Kamaratih

Suasana rumah tua ini sudah lama kehilangan

barang-barang yang membawa riwayat sakit

dan keterpisahan paling perasa

melarut seperti gula, perlahan-lahan yang seolah itu

perjumpaan kembali dengan ilusi

Di jendela yang sudah tak berjeruji tertera

pencarian ini tak mungkin dan sia-sia

Bertahun-tahun lalu seseorang membaca

semua akan binasa dan mungkin sirna bersama

Tak seorang pun yang melihat wajahnya yang tersembunyi

tercela dan luluk-lantak, yang masih menyimpan

belas kasih dan setitik bahagia

Kesetiaan dan kemujuran membuatku kini

sedang menunggu dia

Bagiku kehidupan yang tak tersurat dimana pun ini

pada apa pun juga: Hanya orang itu dan patung-patung

anjing di beranda yang mengerti!

Sebongkah batu dengan mudah diduga

dengan diam sempurna, justru paling memahami

Tanpa pernah tersiksa dengan terus berbaring kaku,

angkuh dan penuh isi

Sejenis kesendirian dan kebesaran yang mengetarkan

Tak pernah cukup terkejut atau tergoda mengabtraksikan apapun

Sedang dia, jejak yang terus kupuja

Dalam ziarah penuh curiga dan marabahaya

Sempurna menembus ranjang paling rinci

sepatah kata seorang tak dikenal, ulangan matahari

terbenam di dalam mimpi, nyalang mata dan

setangkai bunga lavender yang menyendiri ngeri

dan telah mati

Ya, dia dewi yang meliputi semesta rayaku

terus kutunggu sampai jadi sebongkah batu

2004


Air dan Buah

Dari tidurku

bersumber air dan buah

Malam bercabang

kian tak menentu

Aku seolah membaca ulang

kekhawatiran

seolah melangkah ke arah

ilusi yang sakit dan ajaib

Terus berjalan

mendekat dan melewati

api yang nista dan gerhana yang dusta

Air dan buah

kujumpai setitik kekekalan

di dalam rimba dan rawa-rawa malam

Kian kabur

aku berdusta dan bermimpi

malam bercabang

tak terkira mencapai pagi

2004


Setelah Bom Meledak

—buat Keta dari Goenawan Mohamad

Runcing ranting

dari pohon-pohon bambu

berdetak di luas padang

Roh jahat baru di lepas

gerimis bermain dan serasa kecut

tak bisa diabaikan dan dipahami

Rusuh mengilhami

kecemasan yang merata

buru-buru sejarah jadi sangsi

hari ini seperti tak beralamat

seperti tak beribu

Ajalku jadi segala

tergantung dan terjekik

mengusik lamunan

lelah dan mengamuk

Runcing ranting

dari pohon-pohon hayat

berdetak di luas padang

benih di tebar

dan kita menuai gagal dan lalai

2005



Taman dan Seekor Kuda

Kuda dan batu

merangkak dan letih

“Mustahil menjelajah

liku-liku taman ini”

Sedikit harap

seketika berdiam diri

Barangkali sosok seorang teman

yang mendekat

“Aku lelah berdoa dan berzina”

Dia bukan Adam

tapi sebongkah batu

Daun dan warna menara

pun padam

lalu matahari diturunkan

dihadapan seekor kuda

dan sebentang taman

“Aku lelah...”

2005



Bahaya Kecil

Nyaris bahaya kecil itu

mengakhiri ketaatan logika

yang selalu cemas dan miskin

yang elok sekaligus renta

yang acuh dan abai

yang pilu dan memalukan

Bahaya kecil yang terlihat suci

seperti anak lembu di saat fajar

berlari dan dipancung karena mencuri roti

Ya, kita sungguh

tak mengenal kegembiraan

yang mendadak raib

yang terpuruk

Bahaya kecil

yang membuat gelap sempurna

saat diri memadamkan

lilin yang mulai redup di hati

2005



Tentang Riwayat

Sepanjang gelap

kita tinggal di kedai

atau kembali ke taman

Jauh sepotong kata

menunda firasat yang bakal tiba

Pembicaraan atau lamunan

mengusik kembali kematian

antara benci dan rasa takut

Di ruang kecil itu

Kita menafikan

riwayat hidup yang anggun

dan kejam

Masa muda berjatuhan

berkelana di antara rak-rak buku

mengurai yang pernah hilang

atau justru mengorek luka

Atau di padang itu

jiwa kita terlanjur lama

kalah dan terkutuk

Sepanjang gelap

riwayat tak bisa menyangkal

yang selalu kabur seperti bayang-bayang

2005



Gedung Batu

Engkau berjalan menyeberang kearah gedung batu

Aku memuja tangan seorang yang tak di kenal

Di figura tua itu kakimu mencatat

dan menginggat

Arus yang menghukum mati

cinta yang besar dan padat

Aku merinci kembali yang lemah

kata dan tindakan yang lekas

saling mengenal yang paling tak jelas

Mungkin saja langkah itu

justrus tiap gerak-geriknya

akan mengucurkan

darahmu kembali

merapat ke gedung tua

2005



Matahari

Sorga, sebentang rawa yang jauh

rahasia di dalam kitab

Masihkah dia tertidur

seorang mengemasi mimpi

mendapati tangan-tangan api terulur

Kadang di seberang terdengar

tangan dan kaki berderap

mengapai bongkahan

bebatu yang mengabu

Aku mendapati

luka dan terbakar

di dada

2003



Penari Itu

Di dalam gelas malam itu

sepasang pengatin lelah bercinta

dan tertidur

Tangan dan kakinya memanjang

mengalir dan terulur

mengenangi lembah

Sedikit malu-malu

kukecup bibirmu

dan membiarkan tubuh kita

rebah seolah penganti itu

Lalu, sejarah berderai

seperti hujan menari

menunggang sepi

di dalam gelas!

2002



Daun yang Tertinggal di Stasiun Tua

Tanganmu yang tenggelam di dalam air

Mengisahkan betapa panjang dan deras

Waktu memperanakan peristiwa

Daun mengering yang pulang pada bumi

Jenasah yang rebah diambang cuaca

Pikiran dan bayangan yang terus lantang menyeberang

Sepanjang malam

Dengan berulang tenggelam di dalam kelam

Aku tertinggal diruang yang menyambungkan

Antara mimpi yang pahit dan kenyataan yang berbenalu

Berjalan bersama bocah yang terlanjur takut

Dan terluka oleh berderet nama, yang saling berbaur

Dengan karat yang tumbuh di engsel nista

Mereka, seperti halnya diriku, tercenggang

Akibat tak sanggup mengerti igauan

Yang terbang di bibir-bibir angin

Sayang, kini tanganmu yang tenggelam

Didalam air, mengisahkan betapa kita

Tak pelak tinggal di stasiun tua yang redup

Hanya menunggu angin!

PendopoAsih, 22 September 2005


Blog EntryNov 5, '06 8:05 AM
for everyone

Ibu

Kau menyelamatkan aku

Dari keadaan maya dan memasukan

Kedalam alam nyata


Kedai Sinau, 4 Oktober 2004


Potret Tua Itu Tergeletak di Bangku Taman


Aku menunggu kesetiaan dari sebuah bola lampu

Yang benerang di taman

Lima meter dari milikmu, potret tua itu tergeletak

Seperti jenazah, dengan rangkaian bunga pita hitam

(Kado buat ulang tahun ibumu)


Seorang anak dengan suara iklan televisi

Memintalkan kata yang berbau demam dan rumah sakit

(Arus bangkai mengalir dari mulutnya menuju mulutku)


Aku menunggu kesetiaan dari bola lampu

Yang benerang didalam matanya; sepasang mata tua

Untuk nanti kubungkus kearah lima menit

Menuju bibirmu

(Kado buat ulang tahun ibuku)


Pondo Asih, 15 Agustus 2005


Pergi ke Kebun Bersama Ibu


Kebun tempat kita bertanam

Menyemai harum matahari

Tak lagi kupu-kupu hingap kemari

(Lalu kemana pergi kebahagiaan)


Kita masih mengingat

Percikan rindu yang mengalir

Dari suara gayungmu yang tumpah ketanah rekah

(Tetapi kini lembayung gosong dan menjadi piatu)


Ibu, sungguh aku tak tahu

Mengapa kembang yang kita petik tadi pagi

Begitu tergesa-gesa saja melayu

(Adakah pesanmu tak sampai padaku)


Andai kau tahu

Sekali masih bisa kita ulang

Pergi ke kebun menyemai bau matahari

(Tapi kini aku terlanjur piatu)


Pondopo Asih, 3 Agustus 2005


Tangkai Waktu Kampung Halaman


Aku kehilangan sayap

Pulang membawa peluh ke rumahmu

Sejarah seperti bayangan tubuh terpacak

Diam di dinding


Lalu raut wajah ibu kita mendekat

Seperti pintu dan jendela membawa angin

Membawa cakrawala


Di sudut kamar, dingin kita menginggat

Langit dan semu rembulan

Seperti penjaga peraduan yang mulai rabun

Oleh waktu


Aku pergi, Kembali pada musim yang sengit

Meminjam parang untuk menebas petang

Agar nanti ada yang kubawa sebagai tembang ke kampung halaman

Sebagai biji kenangan, moga tak hitam


PendopoAsih, 15 Agustus 2005



Potret yang Sore Itu Terbakar


Sewaktu berdua kita tinggal sebagai piatu

Di kebun sana buah pala baru usai lugur

Jarum waktu tengadah menyandarkan

Bulu-bulunya yang halus pada kerling bintang yang jauh


Kearah lehermu sebuah simpang kecil menyala

Kata pengelana ibu kita baru saja lewat

Membawa kitab-kitab tua dengan kening demam

Dan bibir berlumut debu


Suaramu berlari sepi di dalam kaca

Yang sering di pakai ibu berias

Ada ribuan jarum lancip diujungnya


Aih, kau maunya bersedih saja

Tinggalkan itu mari bercinta, katamu


Lalu kita bersepakat menyusul ibu

Yang sedang membangun ranjang di kota tua

Agar tetap dapat tercecer piatu seperti kita


Aih, lupakan kita tak selalu menderita

Dunggu itu sudah semenjak lama


Pendopo Asih, 2005


Doa di Tepi Kolam


Seseorang menyalakan lilin di tepi kolam

Bayangan wajahnya bidadari bertubuh ringkih dan lesu


Sukma, ia perempuan yang mengenakan

Selendang punya ibumu dengan sorot mata

Penuh bayang-bayang yang mencari tepi dari demam


Igauanya panjang sampai ke telinggaku

Dapatkah aku meminjam ranjangmu untuk

Menidurkannya sebelum bait napas itu usai


Oi, dia sedanng berdoa

Lihat dia tengadah dan tersimpuh

Dalam sorot dingin sang bulan


Aku yakin segera ia akan

Menitikan air mata seperti ibu dulu

Menyebut nama kecil kita satu demi satu


Tuhan yang maha rahim, jauh sudah kita

Menginjak batang hari miliknya

Meludah dan buang tai dihalaman suci

Merapas senyum yang mesti kekal dibibir

Membuat peyok mulut dan pipi yang dipunyainya


Seseorang menyalakan lilin di tepi kolam

Bayangan wajahnya bidadari bertubuh ringkih dan lesu

Seraya ia tekun tenggelam dalam doa

Dalam doa!


Pendopo Asih, 2005


Lagam dari Utara Buat Bunda


Aku merasa teriris setelah mendaki

Bebukit juram dan sesampai di puncak

Kau hanya hadir bersama demam

Dan igauan yang bertambah panjang


Kau, Bunda, yang menatap nanar

Keluar jendela dan senja memalsu

Kartu sejarah buat anakmu yang bermulut

tak mampu terkatup menerawang bebintang malam

Seperti penyakit wabah yang menjadi hantu

Dirongga-rongga tua saat kau tahu

Usia sejarah, yang dingin dan panjang itu,

Pun hanya sekedar risalah lapuk yang tak dijagai

Dan menetap serupa lubang yang berulang menuju matahari pagi

: mesin dan anak-anakmu yang tak berarti


Aku abai Bunda, mendaki bebukit juram

Sementara kau berdiri disisi yang jauh


Bila kupotong tangan kiriku untuk

kusambung pada tangan kananku

tentu kau kembali dapat kudekap

serupa kangenku yang bisu membiru


Bunda, kini yang tinggal

Hanya sayup katamu yang tak lagi terbang

Sebab sayap-sayap cahaya telah padam dan pecah


Rahasia terakhirmu itu tak teraih;

Bila ujung hidungku menyentuh ujung kakimu

Dengan linang air mata raya


Aku melayang dan kehilangan debar

Seperti terjun kejurang hampa!


Pendopo Asih, 2005



Blog EntryNov 5, '06 7:51 AM
for everyone


Dekatkanlah kemari telinggamu biar kukisahkah satu hikayat atau riwayat –apalah beda—tentang cincin pinangan, perempuan yang menunggu dan lelaki yang tinggal di dalam perahu...

Taman itu senyap. Sehabis hujan. Suasana basah dan tidak menentu. Pukul lima sore. Sebenernya dia hanya lewat dan sedang dalam perjalanan menuju ke penginapan di mana sudah hampir sepekan ini ia tinggal. Sesuatu yang merawankan hati dan pikiran, yang pada detik itu terasa melarat-larat, menahannya untuk berhenti. Dan untuk beberapa saat membuatnya terpaku dan hanya berdiri mengamati jejak gerimis, yang seolah kekal memberi pesan tentang bahaya menunggu.

Sebentar lagi gelap dan dia tahu tetap akan dilewatkannya jamuan makan malam seorang diri. Masih ada waktu, pikirnya. Dan ia berbelok menuju jalan batu yang mengarah ke sebuah kolam kecil. Tak seorang pun berada di sana. Diambilnya tempat duduk pada sebuah bangku. Sampai disini ia belum tahu apa yang benar-benar ingin dipikirkan dan ingin di lakukannya. Selain yang ia tahu suasana memang agak basah dan benar-benar tidak menentu.

“Disini aku ingin menangis,” bisiknya.

Jika sudah seperti itu dia akan teringat pada seseorang. Seorang lelaki yang tinggal dalam sebuah perahu. Perahu itu diam-diam mengabur, mengendap-endap, dengan laju yang teramat pelan, mendekat dan menjauh kearahnya.

“Kapan kepastian yang berwajah traktat, doa dan nyanyian itu tiba dengan membawa dirinya padaku?”

***

Di kamar penginapan yang berbau sedap malam, di atas ranjang, sering terjadi, dirinya berbaring dengan tanpa memejamkan mata. Bayang-bayang yang ditimbulkan oleh cahaya yang menerobos masuk lewat kisi-kisi atau celah-celah jendela, dengan cara yang unik dan tak terduga, menciptakan gelombang dan arus. Dan perahu lelakinya melayang-layang, hilir dan mudik. Dia hanya menunggu, dengan perasaan cemas dan berdebar-debar, arus dan gelombang yang datang bersama cahaya, akankah menghempaskan perahu itu atau justru malah mengantarkan lelakinya berlabuh?

Dia terdiam. Memikirkan lelaki yang di cintainya dan tinggal dalam perahu itu.

“Kapan kau datang, Sayang, aku menunggumu,” bisiknya.

Sebelum dia naik ke atas peraduan dengan gerak yang metodis dia akan mengenakan gaun terbaik dan merias lama dihadapan cermin. Karena sewaktu-waktu lelaki itu akan berlabuh dan alangkah akan berbunga hatinya. Dan boleh jadi lelaki itu akan mencium bibir miliknya yang basah-rekah. Sebab sudah teramat rindu dia mengharapkan itu.

Dan, jika benar mereka akan bercinta nanti dia ingin memastikan dirinya akan dikenang lelaki itu dengan wajah anggun dan paras tercantik. Dengan cara seperti itulah lelaki dalam perahu itu akan dapat diharapkan selalu kembali menemuinya.

“Aku ingin memelukmu, meletakan kepala ini pada dadamu, dan menangis,” katanya. “Kita akan akan berjalan dengan terus beriringan. Menuju pasti keranjang ini.”

Dapat dirasakannya lelaki itu memasangkan sebentuk cincin di jari manisnya. Sepasang merpati hinggap dihadapan mereka dan terbang kembali menuju ke angkasa. Di rabanya cincin yang masih melingkar di sana. Dia mencoba merasakan kehadiran benda mungil itu untuk menentramkan atau justru kelak merawankan hati dan pikirannya sendiri.

Fajar yang merambat di pelataran mudah saja menghapus seluruh mimpi yang dijagainya sepanjang malam. Bayang-bayang pada dinding itu pun tumpas sudah. Dengan separuh igauan dia berkata lirih, “saatnya untuk tidur tanpa mimpi.” Lalu, dia pejamkan mata melepas semuanya bersama cahaya terang yang datang, jatuh tertidur, dan benar-benar tanpa mimpi.

***

Pada bulan Januari, dia masih menginggatnya, pertemuan dengan lelaki itu terjadi. Meskipun bukan lelaki yang benar-benar diidamkannya ketika dia datang membawa setangkai mawar dan sekotak coklat dia menerimanya begitu saja. Kemudian angin dan cuaca yang menyaru dalam bentuk segulung badai dan seekor lembu menindas dan mengamuk dalam dirinya. Lelaki itu menjadi hadir menyatu dengan angin, cahaya, bayang-bayang dan udara.

Dan, bukan tak pernah tak timbul keinginan bepergian berdua bersamanya. Pada malam-malam tertentu dia terus saja terjaga, terserang demam, yang tak berkesudahan.

Dia merasakan hatinya yang lenggang sekaligus pedih. Seperti sedang dirasakannya bepergian ke tempat antah berantah, yang jauh, yang justru tanpa tujuan. Perjalanan yang tak untuk memastikan apa-apa.

Hari-hari lewat seperti tak memberi nama pada peristiwa. Sebab semenjak itu semua terarah pada lelaki itu dan kepada dirinya, dia merindukan sebuah traktat, doa dan nyanyian yang dapat mengantarkan dirinya pada lelaki dalam perahu itu. Atau yang akan mengantarkan lelaki itu kepada dirinya. Merindukan dengan sangat.

Sebenarnya dia gadis yang baik. Perilakunya yang sederhana menegaskan itu. Bila berkata-kata bahasa yang digunakannya runut. Jelas-jelas memperlihatkan kerendahan hati dan menampakan jiwa yang di dalam begitu padu dengan sang empunya suara.

Dalam hidup yang sederhana itu adalah tak masuk akal kalau dia pernah memiliki rahasia yang mengerikan. Itu hal yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun. Sebab apabila berbicara dengan dirinya selalu serasa menyenangkan.

Dari suaranya yang lembut, sesuatu yang muskil, bila dia berbicara yang tak berguna. Kata-kata yang sederhana itu dalam arti tertentu menjauhkan dari adanya tafsir ganda dan dengan begitu jauh pula dari segala prasangka. Mungkin dia memang mampu memberi tafsir tunggal yang pada dirinya tahu bahwa segala sesuatu bukannya tak terhingga tetapi justru sangat terbatas.

Dia percaya bahwa Tuhan itu adil. Justru karenanya kerawanan hati yang kini merambati jaga dan tidurnya dia pandang sebagai bagian keagunggan Sang Kudus itu. Rajin sekali dia berdoa. Doa yang rinci dan yang mungkin mampu menembus jauh kebintang-bintang. Sekaligus yang dengan mudah memasrahkan segal ikwal kehidupan yang mengelora menjadi tenang dan penuh pengertian.

Saat mengenal lelaki itulah, pada awalnya dia bersikeras seluruh pengalaman manusia, setidak-tidaknya pengalamannya sendiri, cuma sebentuk bayangan, yang terkadang nyata, yang berderet sederhana, dari hari berjalan ke hari.

Pikirannya tanpa pertimbangan bekerja setiap waktu dengan gentar dan akhirnya lamat-lamat menuju kesia-siaan yang sempurna. Seperti gelombang dan arus yang membuat hilir mudik perahu lelaki itu dan tak pernah membuatnya berlabuh. Juga seperti bayang-bayang cahaya yang menerobos masuk lewat kisi-kisi atau celah-celah jendela.

Perahu lelakinya yang melayang-layang seperti perahu hantu. Dia selalu menyangka bila gelombang membawa dengan deras perahu itu mencapai tepi ranjang miliknya maka lelaki itu disangkanya akan turun. Diam-diam dia menutup mata dan suatu godaan yang aneh dan akhirnya menyedihkan membuatnya berpura-pura malu-malu dan akhirnya pura-pura tabah.

Keyakinannya terhadap doa serupa keyakinan tentang cahaya fajar yang merambat dipelataran ketika dini hari tiba. Sesuatu yang pasti tiba sebagaimana sesuatu itu dijanjikan. Ya, bahwa Tuhan yang maha rahim penguasa gelombang dan arus, traktat dan nyanyian, Sang Kudus itu, akan mengantarkan lelakinya datang. Sebab kini telah melingkar suatu yang manis di satu antara lima jemarinya yang lentik, yang hanya terkadang saja menari curiga dan sanksi.

Setelah rindu itu datang semua serasa pelik dan menyiksa. Namun memanglah hal itu diluar jangkauan pikirannya yang sederhana dan terlampau sulit untuk dapat dimengerti.

Kemampuannya untuk bertahan dari kecemasan sendiri terkadang memang tak tergantikan atau tak menjadi lebih kukuh oleh adanya benda-benda. Tak terkecuali setangkai mawar dan sekotak coklat. Bahkan juga kehadiran si mungil di jari manisnya. Meski itu benda bertuah yang mewakili satu turunan janji. Tanda yang tak sanksi bahwa dia telah menjadi pinangan lelaki itu.

Rindu membuat dirinya mengigil dingin disiang yang cerah. Atau di malam-malam yang hangat yang langitnya di penuhi bintang-bintang.

Soal air mata merupakan soal yang lain lagi. Dulu di dalam doa atau saat bernyanyi, karena suka cita, wajar sekali kalau dia menangis. Doa dan nyanyian atau sebuah traktatlah penyebabnya. Dan, kini dia menangis karena hal-hal yang tak kunjung dimengerti. Juga karena kenapa lelaki yang ditemui di bulan Januari itu tak juga datang. Sudah sepekan dia menunggu di penginapan. Kenapa mesti dirinya yang harus menanggungkan keterlambatan yang tak terampuni macam itu. Hanya karena dia perempuan? Dan, cincin pinangan itu serasa jadi tak berguna.

***

Seseorang di kejauhan menyalakan lampu. Pukul lima sore telah lama lewat. Api yang bara didalam bola lampu itu berpendaran di dasar kolam. Mengusir hening dan ilusi-ilusi dari bayangan mendung dan petang. Seekor katak berwarna hijau memandanginya dengan heran. Berkedip-kedip sedih. Seperti sahabat baik yang hadir dan peduli.

Dia belum merasa jemu di sana maka dalam kesendiriannya ditemani katak hijau baik hati itu dia memutuskan untuk tinggal beberapa lama lagi.

Jalan batu itu basah oleh gerimis yang lewat. Dia tak hendak menyangkal atau membuktikan pikirannya yang keliru menunggu. Di atas rumput hijau dilihatnya sampah-sampah kecil yang ditinggalkan oleh penziarah taman yang sudah pulang.

Sebenarnya kalau dia pergi belum terlambat untuk menikmati jamuan makan malam yang di sediakan penginapan. Makan sambil mengamati pohon blimbing yang meluruhkan buah-buah muda yang busuk. Tapi apakah artinya tanpa lelaki itu? Suatu momen jadi memudar dan sirna arti karena sugesti yang ganjil. Dia, lelaki itu, tak salah lagi, kini, baginya serasa hanya bermulut manis saja.

Ditengah-tengah kerawanan atau justru keputusasaanya sendiri yang beroleh pelipur yang mendadak dari sudut-sudut masa lalu yang jauh, matanya yang kelam menatap sejenak sepasang mata katak yang sedang memandinginya. Timbul satu pergertian yang aneh yang membentuk satu senyum kecil di sudut bibirnya.

“Aku bukan seekor katak yang hanya tahu semesta raya kolam kecil ini. Sehingga harus hidup dalam satu kutukan mabuk menunggu,” katanya.

Dia melihat batu-batu kecil yang tengelam dan gelembung-gelembung air yang menempel di pingir-pingir kolam. Dia melihat kebahagiaan katak itu karena keterpenjaraannya yang dunggu dan menemukan kesedihannya sendiri telah melewati jalan yang sama. Menggulangnya dari hari ke hari di semesta kecil yang menyaru labirin yang dalam, serupa doa, serupa traktat dan nyanyian, yang menyerap sari-sari cahaya hidup miliknya. Kadang keronkongannya serasa kosong dang mulutnya haus.

Mungkin saja kini memang tak ada perlunya lagi berbicara tentang soal rindu. Mungkin juga karena dia telah memiliki apa yang semestinya dipunyai seorang perempuan: tanda pengikat atau turunan janji serupa cincin itu.

“Jelas kolam kecil ini tak memadai untukku,” katanya.

Sesuatu yang tak ingin terpikirkan jadi terpikirkan. Barangkali karena kini gelombang dan arus yang membuat hilir mudik perahu lelaki itu berasal dari cahaya yang lain. Barangkali berasal dari cahaya yang menerobos kisi-kisi dan celah-celah mimpi yang berbeda. Dan, yang sebenarnya dia tak sunguh-sunguh ingin terus menanti. Seperti sekarang, di taman ini, dia tak sedang menunggu siapa pun juga.

Taman itu bertambah senyap. Hanya suara seranga dibalik semak dan perdu. Mengetar dan merambat bersama cahaya kuning lampu-lampu dikejauhan. Perlahan dia bangkit dan melepas cincin itu untuk pertama kali setelah lelaki itu memasangkannya. Saat itu dia melihat sepasang merpati hinggap dan terbang. Dia ingin katak hijau menelan benda bertuah itu. Merahasiakan di dasar lambungnya yang barangkali bisa sebagai tanda persahabatan mereka.

Perempuan itu masih berdiri terpaku, sebelum akhirnya melangkah pergi melalui jalan batu, dan hilang di dalam malam, di antara pijar-pijar kuning lampu di kejauhan.

Tak ada yang tahu kemana dia pergi. Hanya saja katak hijau itu masih berkedip-kedip lama setelah dia tak ada di sana. Aku juga tak tahu apakah cincin bertuah pengikat turunan janji itu benar-benar telah tersimpan di dasar lambungnya atau tidak. Dan apakah perempuan yang sebaik dia harus lebih lama lagi menunggu... Betapa tak sanggup aku mengulang dan meneruskan hikayat ini.

Tetapi kelak jika lelaki yang tinggal dalam perahu itu bertemu katak hijau tak ragu lagi keduannya memang serupa. Ini memang perkara ingatan dan sayang sekali hal macam itu tak pernah diketahui dan lebih-lebih terpikirkan dibenak banyak lelaki. Tak terkecuali aku.

Dan, ada baiknya kalau kamu ingin meminang kekasihmu aku sarankan temui dulu perempuan itu. Kamu akan lihat betapa terang dan nyata bekas ciincin dan kekecewaaan yang ditanggungkan. Bertanyalah padanya sebelum kamu juga memutuskan kembali tinggal dalam pelayaran perahumu. Atau koreklah lambung katak itu, temukan cincin bertuahnya, baru kamu bisa memasangkannya di jari manis kekasihmu. Melihat sepasang merpati hinggap dan terbang.

Agar lebih berhati-hati, perihal hikayat ini, kuharap kamu tak percaya padaku, sebab memanglah kekasihmu menunggu cincin semacam itu!


Photo AlbumsEbiaNnentONov 5, '06 6:42 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
by aStiD ResA

Blog EntryNov 5, '06 6:33 AM
for everyone
senja sudah kian jauh, Ai, dan besok kau akan rayakan mantra pertamamu.

saya masih akan tetap berdiri ditepian kali Brantas ini. mengecilkan kenyataan dengan melihat bulan. menunggu malam makin gagu dan merenungkan katamu dulu setiap kali kita bertemu. tentu saya pelan-pelan mesti tahu apa yang terbaik nanti yang saya lakukan.

masih sabtu depan kan? tentu saya juga datang..
berdiri dikejauhan memandangmu mengemasi masa muda, setelah itu saya akan pergi, dan akan kutitip Tomas penerang, semoga bisa mencahayai malam harimu.

Kau akan jadi guru yang baik.istri yang manis. dan setia pula.